728x90 AdSpace




Waktu tak pernah menyesal. Ia berjalan ke depan karena tahu, semua takkan pernah sama meski semua diulang ke masa dulu




“Dimas?” Neyna kaget. Renggo melihat air muka Neyna berubah. Dia melihat ke rombongan yang beristirahat di seberang mereka. Dimas berjalan ke arah mereka. Neyna menelan ludahnya dengan susah payah.

“Kenapa nggak bilang mau ke Gede? Tau gitu kan bisa bareng.” Neyna tersenyum, dengan terpaksa.

“Lo kan nggak bilang mau ke Gede juga sama gue.”

“Sorry. Tadinya gue mau buat surprise. Eh ketemu lo disini,” ujar Dimas nyengir. Dia menatap Renggo yang bergeming melihat mereka.

“Siapa, Ney?” Dimas melirik Renggo. Renggo malah mengepalkan tangannya yang tersembunyi di samping kakinya yang bebas selonjoran. Matanya melihat Neyna menunduk dan menggigit bibir bagian bawah.

“Renggo.”

“Renggo? Renggo yang?” Mata Renggo menyipit. Dia melihat rahang Dimas mengeras sebelum mendesah seperti patah semangat.

“Pantas saja lo belain balik Jakarta dan langsung naik gunung. Ternyata ada dia.”

“Dimas, plis. Kita bisa ngomong sebentar nggak?” Neyna ingin menarik Dimas pergi. Renggo malah berdiri dan memasukkan tangannya ke saku celananya.

“Nggak usah kemana mana. Gue aja yang pergi. Kalian lanjutin obrolannya.”

Renggo berjalan meninggalkan Neyna dan Dimas. Tangannya di saku celana mengepal kesal. Sampai di dekat Denis, Renggo menjatuhkan badannya dengan posisi telentang, siap tidur. Denis mengernyit heran melihat muka Renggo yang ditekuk, seperti menahan kesal.

“Kenapa, Bro?”

Renggo menunjuk dengan dagunya. Tampak Neyna dan Dimas bercakap-cakap. Denis malah mengerling jahil.

“Cemburu?”

“Sotoy.”

“Gue tau kok. Mata lo udah jawab semua.”

“Au ah.”

Renggo menutup mukanya dengan topi gunung dan memejamkan mata. Ia tak bisa berhenti bertanya siapa Dimas. Apakah seseorang yang punya hubungan khusus dengan Neyna? Kenapa muka Neyna berubah gugup saat bertemu Dimas? Renggo bersidekap dan kemudian hening.

“Dasar pelor. Nempel molor.”

Denis memperhatikan Neyna dan Dimas. Dia melirik Renggo sambil geleng kepala.

“Pantes putus asa. Saingannya ganteng. Blasteran kali ya. Sebelas dua belas sama gue gantengnya. Aww!” Denis melotot. Renggo menjitak kepalanya. Denis manyun mengusap kepalanya yang benjol.

“Kirain tidur beneran.”

Renggo berdecak malas dan meneruskan tidurnya. Denis memilih ikut memejamkan mata. Lumayan sejenak melepas penat.


***


Neyna menunduk. Dimas duduk di sebelahnya dengan bersila. Dengan muka yang sama seperti saat Renggo pergi tadi. Terlihat patah semangat.

“Lo nggak bisa apa jujur sama gue? Gue nggak marah lo kesini demi Renggo.”

“Maaf.” Neyna menunduk. Dimas tersenyum kecil, sedikit menyisakan sedih di ujung bibir. Pupus sudah harapan yang selama ini selalu ia lambungkan meski sadar Neyna hanya memandangnya sebagai teman, tak lebih.

“Jadi gue beneran nggak ada harapan ya?”

Dimas bertanya, lebih tepatnya meyakinkan diri dengan kenyataan yang baru saja ia lihat.

“Gue nggak mau PHP-in lo, Dim. Cukup hubungan gue dan Renggo aja yang rumit kaya gini.”

“Jadi, lo suka dia, tapi lo nggak mau dia berubah setelah tahu apa yang lo siapin buat masa depan lo?”

“Gue nggak mau kehilangan sahabat lagi.”

“Ini beda, Ney.”

“Sama aja. Gue bingung, kenapa setiap sahabatan sama cowok, harus berakhir dengan cinta. Nggak bisa apa semua murni karena emang mau sahabatan.”

“Karena wanita dan lelaki itu tercipta untuk saling berpasangan. Wajar kalau sahabatan jadi ada rasa. Dan lo termasuk jadi friendzone sama Renggo karena ini.”

“Kok bisa?”

“Kalian berdua sama-sama nggak mau setelah semua terungkap, jadi sama-sama ngejauh. Dan kalian berubah. Benar kan gue?”

Neyna menunduk. Dimas benar. Apa yang di pikirannya saat ini memang sama dengan kalimat Dimas tadi. Friendzone?

“Lo egois, Ney. Lo ngaku suka dia, tapi lo tetep mau kalian sahabatan. Semua tak akan sama lagi. Kalau lo mau tahu.”

“Tapi gue sama lo masih temenan sampai sekarang. Nggak ada yang berubah.”

“Karena gue tau dari awal, di hati lo nama gue itu cuma sebagai teman. Nggak lebih.”

Neyna diam. Dia mati kutu. Dimas tersenyum dan menepuk pundak Neyna sebelum berdiri.

“Moga nanti pas balik sidang skripsi, semua masalah lo selesai. Jadi lo bisa fokus mikir masa depan lo.”

“Thanks ya, Dim. Sorry karena gue nggak ngabarin lo kemarin.”

“It’s okey. Gue ngerti. Good luck. Sampai ketemu di puncak.” Neyna mengangguk. Dimas bergegas masuk rombongannya lagi.

Neyna melihat ke segala arah, mencari Renggo. Sepasang kaki yang panjang dengan sepatu merk merrel dengan celana kargo yang kotor akibat jatuh tadi membuat Neyna berhenti mencari. Renggo tidur, tapi mukanya tertutup topi.

Rio datang membangunkan yang lain. Renggo dan Denis berdiri menyiapkan diri. Neyna ikut berdiri menggendong carriernya. Matanya masih melirik ke arah Renggo.  Neyna terhenyak. Renggo memandangnya dengan tajam. Neyna buru-buru masuk ke regu cewek dan mulai berjalan, melewati Renggo yang memang harus jadi tim sapu bersih di barisan belakang.

“Ney, ada yang cemburu tuh.” Denis berbisik saat Neyna melewatinya, tapi dengan suara keras. Renggo melotot garang. Denis ngakak langsung ngacir ke belakang. Renggo batuk-batuk sok jaim. Neyna tersenyum, dengan hatinya. Dia melangkah sembari tersenyum sendiri. Renggo langsung jitakin kepala Denis.

“Lo tega! Gue kan cuma bantuin lo. Ini balasan lo buat gue? Lo tega, Nggo!”

Renggo menoyor kepala Denis yang beradegan lebay sambil pura pura menangis. Denis manyun. Renggo melangkah dengan pandangan lurus ke depan. Dia refleks melirik ke arah Dimas yang dia lewati. Dimas tersenyum dan mendekatinya.

“Renggo. Selesain masalah kalian dengan kepala dingin ya. Gue tahu kok sebenarnya kalian..”

“Gue nggak butuh nasehat lo. Lagi gue juga nggak kenal lo.”

Renggo berjalan cepat. Dimas mengejar dan memegang kerah baju Renggo. Renggo mendengus.

“Oke. Gue Dimas. Temen Neyna selama kuliah di Jogja. Dan lo perlu tau. Kalo lo nanggepin Neyna dengan cara begini, gue pastiin ngerebut Neyna dari lo. Karena gue sayang sama dia.”

“Lo ngancem gue?” Renggo menatap balik dengan pandangan menantang.

“Nggak. Gue ngingetin. Karena gue tau, lo alesan dia nolak gue selama ini.”

Renggo terkejut. Denis yang tadi membetulkan tali sepatunya berlari dan melerai mereka.

“Apaan sih kalian? Kaya anak kecil tau nggak? Renggo ayo jalan. Misi ya, Bang.”

Denis menarik tangan Renggo menjauh. Dimas menghela nafas kesal. Jika seperti ini, dia pun masih belum bisa melepaskan Neyna. Renggo sama keras kepalanya dengan Neyna.



***


Hampir satu jam semua rombongan meneruskan perjalanan. Masih terdengar candaan dan obrolan ringan meski tak sesering saat baru mulai mendaki. Melewati jalan yang makin menanjak, sebagian mulai mengeluh dan beristirahat lagi. Renggo melihat Neyna sedikit terhuyung.

“Ney, lo nggak apa-apa?”

Teman Neyna memegang pundak Neyna yang ngos-ngosan. Salah dia kemarin jarang olahraga karena sibuk bimbingan skripsi. Dia merasa otot-otot kakinya mengejang kaku.

“Renggo, sini! Neyna kayanya kesemutan kakinya!”

Renggo refleks berlari mendekat dan mengambil carrier Neyna. Teman Neyna mengajak Neyna duduk menyelonjorkan kaki. Renggo jongkok di depan Neyna. Teman teman lain terus bergerak maju meninggalkan mereka.

“Masih kuat jalan? Kalo nggak, turun aja deh daripada kenapa napa.” Neyna menggeleng. Dia tak separah itu.

“Gue cuma kesemutan. Ntar juga sembuh.”

“Kalo gitu Neyna jalan sama gue aja. Dis, lo duluan deh. Udah jauh tuh yang di depan.”

“Lo nggak papa gue tinggal, Ney?”

“Nggak papa. Bentar lagi gue nyusul.” Bohong. Neyna sebenarnya ingin berlari ke depan. Jauh dari Renggo yang selalu menatapnya meski dia tak menoleh ke belakang. Dan sekarang, dia harus berjalan dengan Renggo? Takdir Tuhan memang enggak bisa diprediksi.

“Kalo gitu gue duluan. Ntar gue kabarin yang di depan buat nungguin kalian.”

Neyna mengangguk. Renggo duduk di sebelah Neyna. Denis melihat mereka berdua dari jauh dan memutuskan menunggu dari jarak yang cukup membuat mereka nyaman ngobrol berdua.

“Lo sakit, Ney?” Renggo akhirnya buka suara.

“Gue sakit. Karena lo, Ndut,” jerit Neyna dalam hati.

“Biasalah. Jarang olahraga gue. Kemarin nggak pemanasan sama sekali.”

“Ya udah, ntar carrier lo gue bawa aja.”

“Nggak usah. Gue masih bisa kok.”

“Sekali ini, tolong dengerin omongan gue. Gue nggak mau lo tambah sakit.”

Neyna menelan ludah. Justru makin lama sedekat ini dengan Renggo membuatnya makin sakit. Sakit menahan perasaannya sendiri. Renggo meletakkan carrier Neyna di sebelah carriernya sendiri.

“Dimas siapa? Gebetan lo?”

“Bukan. Temen biasa.”

“Tapi dia janji bakal ngerebut lo dari gue tadi.” Neyna terhenyak. Dasar, cowok itu selalu saja membuatnya serba salah.

“Lo nolak dia karena gue?”

Neyna memandang Renggo dengan kesal. Memang dasar cowok selalu enggak peka. Neyna mengeluh dalam hati.

“Atas dasar apa lo ngomong kaya gitu? Toh kita cuma sahabat, bukan yang lain.” Renggo menghembuskan nafas kesal. Harus berapa kali dia buktiin kalau dia memang menginginkan mereka berdua lebih dari sahabat.

“Jadi, kertas yang lo tinggalin buat gue kemarin juga, atas nama persahabatan? Bukan yang lain?”

Neyna tertegun.
















_Bersambung_

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

20 komentar:

  1. Wiss ceritanya bikin baper deh ya ;-(
    Memang ya, hubungan persahabatan itu menjadikan salah satu ada punya perasaan. Ya, kalau dua2nya ada sih enak, langsung jadian. Tamat. Sebaliknya, cerita udah kaya ftv-ftv. Berdrama banget. Contohnya aja aku ;((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Sabar ya, Dek. Friendzone pasti berlalu. Nasibnya sama ama tokoh di cerita saya. Semangatlah mengejarnya. "Tikunglah sebelum ditikung duluan." :>)

      Hapus
  2. Wkwk masih bersambung ya Allah.
    ini sebenernya mereka berjodoh ga ya,
    penasaran abdi teh.
    yang cewe cuek
    yang cowo ga peka
    gitu terus sampe kelar zona friendzonenya
    nanti abis turun gunung langsung nikah aja ya biar ga di tikung siapa siapa wq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Gitu aja terus yak sampe lebaran haji. Wkwkwkw...
      baiklah, saya tunggu resppn aja maunya endingnya gimana =))

      Hapus
    2. Pokoknya endingnya yang happy happy aja gitu deh,
      atau si Neyna tiba-tiba mati di gunung *loh

      Hapus
    3. Lah jangan mati dong. Nggak enak amat endingnya. Wkwkwk. Baiklah. Smoga happy ending ya :d

      Hapus
  3. pesan moral yang bisa gue petik dari sini, bismillah semoga engga salah. "Nggak usah temenan sama jenis kelamin yang berbeda." Nanti kisahnya bisa ribet dan panjang macam ini. Lebih baik mah temenan sama sesama jenis aja udah lah ya, naik gunung jadinya full drama begini kan? hmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bisa dibilang gitu. Kalaupun emang sahabatan, harus ada komitmen dari awal juga sih. Hehe. Soale aku juga ada sahabat cowok sih, dan masih awet sampai sekarang(o)

      Kalau khawatir sih ya mending temenan aja, bukan sahabatan. Thats it. Kalau ketahuan ada yg suka, jujur, kan kalau ditolak jelas tuh :p

      Hapus
  4. Ini cerita bersambung yah ? baru baca satu part udah baper banget ;(( ;((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Iyah. Coba dari depan, tambah baper deh. =))

      Hapus
  5. HUFT Skripsi emang bisa bikin lupa semuanya, Mbak *malah curhat*

    Semakin complicated juga ya, Bu ini cerita dua sejoli yang demen naik gunung hahaha. KAPAN KLIMAKSNYAAAAA?! *penonton nggak sabaran*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. Hooh, skripsinya emang bikin lupa segalanya ;((

      Klimaks? Oke oke sabarrrrrrr (o)

      Hapus
  6. Kata yang simpel yang dituliskan pun gak susah. Tapi skripsi ini rasanya gimana gitu, bikin mumet..hehe
    Pendakian penuh drama, ini udah bagian 4 dan belum tamat ya. Sampe lebaran ini teh ya..hehe

    Kapan tayang di TV ya, Mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Penuh drama. Kayanya bakal saya buat ending di part selanjutnya, biar enggak kelamaan :D

      Yang tayang di TV beda naskah. Udah lama itu. Nonton aja: Dari gunung jatuh ke hati *promosi :>)

      Hapus
  7. Neyna oh neyna.... Renggo oh Renggo... sebenarnya ini muter2 aja ya bikin baper inget masa muda dulu. Suka sama sahabat tapi nggak berani bilang.
    Ini si Renggo juga hahahaa
    Aku maunya Neyna sama Renggo aja deh ya Lin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bolehlah boleh mau request kaya gimana aja boleh. Hehee. Ingat masa muda ya Mei :v

      Hapus
  8. Gua udah sering ngalamin yang kayak gini, dari sahabat jadi pacar. Tapi dalam kasus gua, ujung2nya selalu bad ending. Cape deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah Keni sedih banget endingnya. Dr pengalaman temen2 sih biasanya banyak yg happy meski ada yg mtusin ttp temnan ky biasa sih:)

      Hapus
  9. Hubungannya rumit ya, sampai mau berantem segala.

    Masalah Ney sama Reng kok segitunya ya, kalau saling suka ngomong aja.

    Eh aku salah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya kan kl kujur trus ditolak kan nyesek. Hahaha.


      Ga salah kok. Perasaan emang nggak bisa dipaksain sih *sotoy😀

      Hapus

Tinggalkan jejak dengan komentar keren yuk?! Biar saya tahu, kamu sudah sedia menyempatkan diri baca tulisan sederhana ini^__^

 
Pena Petualang © 2013. All Rights Reserved. Create For Elsety
Top